986 Burung Tanpa Dokumen Dilepas Liarkan di Tahura Wan Abdurachman

986 Burung Dilepasliarkan Di Tahura Wan Abdurachman

Bandar Lampung – Sebanyak 986 ekor burung dari berbagai jenis baik yang berstatus dilindungi maupun tanpa dokumen, dilepasliarkan di Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdurachman, pada minggu 13 september 2020.

Pelepasliaran burung tersebut atas hasil kerjasama antara penindakan terhadap pelaku yang dilakukan oleh, Balai Karantina Pertanian Kelas  I Panjang, Polsek KSKP Bakauheni, dan Flight : Protecting Indonesian Bird, yang sudah berulang kali digagalkan.

Bayuma Askari, selaku Kasi Perlindungan, KSDAE, Pemberdayaan Masyarakat  UPTD KPHK Tahura Wan Abdul Rachman mengatakan, pelepasan burung yang sudah sering dilakukan di Tahura dikarenakan lokasi yang sangat cocok, karena ketersediaan air dan pakan alami yg dibutuhkan burung masih sangat banyak ditemukan di Tahura.

“Dalam rangka penguatan fungsi, Tahura WAR bekerja sama dg Flight dalam upaya mendukung pelestarian satwa burung dan habitatnya.  Kegiatan yg dilakukan bersama antara lain memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian satwa burung melalui pemasangan plang himbauan dan larangan berburu, melakukan pemantauan pasca pelepasliaran satwa burung sebagai upaya menjaga dan memastikan bahwa burung yg sudah dilepasliarkan tidak ditangkap oleh para pemburu,” ujarnya di Tahura Wan Abdurachman, Minggu 13 september 2020.

Dalam pelepas liaran, memang kerap ditemukan burung yang lemas atau mati, hal itu dikarenakan proses pelepasan butuh waktu yang panjang, seperti membawa burung dari suatu tempat, hingga proses adminitrasi.

Namun dalam waktu dekat guna optimaliasi paska pelepas liaran, Tahura Wan Abdurachman, bersama dengan Fligt Protecting Indonesian Bird akan membangun post pemantauan satwa, dan kandang Habituasi alam  di sekitar wilayah Tahura.

“Pendirian pos pantau untuk menjaga burung yang sudah dilepasliarkan di wilayah tahura, masih berpotensi kembali diburu,  diharapkan daoat meminimalisir terjadinya perburuan satwa terutama jenis burung, di samping itu juga akan mengembangkan wisata minat khusus pengamatan satwa burung. Kemudian kandang habituasi juga dapat menjadi daya tarik wisata, dimana satwa burung sebelum dilepasliarkan di alam bebas akan  dilepas di kandang habituasi terlebih dahulu sampai kondisinya betul-betul pulih dan siap dilepas di alam bebas,” paparnya.

Kemudian, dari hasil koordinasi KSDAE, bersmaa Flight Protecting Indonesian Bird dan kepolisian. Modus terbaru yang ditemukan adalah, penyelundupan dengan berbagai jenis kendaraan, baik kendaraan umum jenis bus, travel hingga kendaraan pribadi, kini menggunakan save post.

Tercatat ada dua save post di Lampung, sebelum burung dibawa ke Pulau Jawa, melalui Pelabuhan Bakauheni.

“Jadi burung ini banyak dari jambi, dari bengkulu, bahkan dari Lampung, modus terbaru kita temukan tempat penyimpanan sementara, yakni di Bandar Lampung, dan Pasir Sakti Lampung Timur, melihat kondisi aman, lalu bakal dibawa ke Pulau Jawa,” paparnya.

 Direktur Komunikasi Flight Protecting Indonesian Bird  Nabila Fatma mengatakan upaya edukasi dan awareness kepada masyarakat sangat penting dilakukan untuk melestarikan burung liar kita, selain upaya penindakan dan penegakan hukum terhadap para pelaku penyelundup dan pedagang ilegal.

Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan FLIGHT tidak hanya membantu petugas untuk melakukan penindakan kepada penyelundup dan pedagang ilegal, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi melindungi burung liar untuk tetap hidup di habitat alaminya.

“Dengan membangun ecotourism, diantaranya kegiatan bird wacthing di tahura WAR semoga masyarakat bisa semakin menyadari penting dan indahnya burung untuk tetap hidup di habitat alaminya,” paparnya.

Sementara, Data dari Balai Karantina kelas I Bandar Lampung,   selama 2020 (hingga 7 september) telah diamankan 36.861 ekor burung selundupan, baik tanpa dokumen maupun jenis yang dilindungi.

Pada tahun 2019, diamankan 29.488 ekor, dan pada tahun 2018, hanya 9.118 ekor. Hal itu, menunjukan upaya penyelundupan burung ke Pulau Jawa, terus meningkat.

Salah satu upaya peningkatan pencegahan penyelundupan burung, yakni dimana Balai Karantina pertanian mengajukan pengadaan Mobile Xray, guna lebih menguatkan pengawasan penyelundupan, yang selama ini dibantu dengan anjing pelacak. (LP)

Share