Anggaran Proyek Sumur Bor Dinas Pertanian Tulangbawang Diduga Ada Kebocoran

0
193

Tulang Bawang, etalaseinfo.com -Pembangunan sumur bor pertanian sebanyak 50 titik oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tulangbawang tahun anggaran 2017 yang menelan anggaran Rp 4,5 milyar lebih yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) diduga kuat rugikan uang negara milyaran rupiah.

Diduga akibat perencanaan yang kurang matang dilakukan oleh pihak Dinas Pertanian Kabupaten Tulangbawang, banyak sumur bor yang di bangun pada tahun anggaran 2017 tersebut tidak dapat berfungsi secara maksimal. Selain itu, diduga ada kebocoran anggaran milyaran rupiah pada pembangunan 50 titik sumur bor pertanian tersebut.

50 titik pembangunan sumur bor tersebut terbagi menjadi 34 paket pekerjaan, dimana dalam satu titik pembangunan sumur bor Dinas Pertanian Kabupaten Tulangbawang menganggarakan dana sebesar Rp 91.360.000. Pekerjaan pembangunan sumur bor tersebut tersebar dibeberapa Kecamatan yaitu, Kecamatan Menggala Timur 6 titik sumur bor yang tersebar di Kampung Cempaka Dalam  2 unit dengan Pagu Rp182.720.000, 1 unit di Menggala Rp 91.360.000, 1 unit  di Kampung Cempaka Jaya Rp 91.360.000, 1 unit di Kampung Sungai Luar Pagu Rp91.360.000 dan 1 unit Kampung Lingai dengan pagu Rp 91.360.000.

5 titik sumur bor di Kecamatan Banjar Baru yang tersebar di Kampung Panca Mulya 2 unit dengan pagu Rp182.720.000, 1 unit di Kampung Karya Indah Jaya Rp 91.360.000, 1 unit Kampung Bawang Tirto Mulyo Rp 91.360.000, 1 unit Kampung Balai Murni Jaya Rp 91.360.000.

Sedangkan di Kecamatan Dente Teladas ada 14 titik lokasinya sendiri tersebar di Kampung Kekatung 2 unit  dengan Pagu anggaran sebesar Rp182.720.000, 2 unit 2 di Kampung Kekatung Rp182.720.000, 2 unit di Kampung Dente Makmur Rp182.720.000, 2 unit Kampung Way Dente Rp 182,720.000, 2 unit Kampung Pendowo Asri Rp 182.720.000, 2 unit Kampung Teladas Rp 182.720.000, 2 unit Kampung Teluk Baru Rp182.720.000.

Untuk di Kecamatan Gedung Meneng sendiri terdapat 7 unit sumur bor tersebar di kampung Gedung Bandar Rejo 1 unit Pagu Rp 91.360.000, 1 unit di Kampung Gunung Tapa Ilir Rp 91.360.000, 2 unit di Kampung Gedung Bandar Rahayu Rp 182.720.000, 2 unit di Kampung Gedung Meneng Rp182.720.000 dan 1 unit sumur bor di Kampung Gunung Tapa Udik dengan pagu Rp 91.360.000.

Sedangkan ada beberapa titik sumur bor tersebar di beberapa Kecamatan yaitu,  2 unit di Kampung Bujung Tenuk Kec. Menggala dengan pagu Rp182.720.000, 1 unit di Kampung Wono Agung Kec. Rawa Jitu Selatan Rp 91.360.000, 2 unit di Kampung Hargo Rejo Kec. Rawa Jitu Selatan Rp182.720.000, 2 unit di Kampung Sido Mekar Kec. Gedung Aji Baru Rp182.720.000, 2 unit Kampung Mekar Asri Kec. Gedung Aji BaruRp182.720.000, 1 unit Kampung Sido Mulyo Kec. Penawar Tama Rp91.360.000, 1 unit Kampung Sido Harjo Kec. Penawar Tama Rp 91.360.000, 2 unit Kampung Tri Darma Wira Jaya Kec. Banjar Agung Rp 182.720.000, 1 unit Kampung Banjar Dewa Kec. Banjar Agung Rp 91.360.000, 1 unit Kampung Mekar Jaya Kec. Banjar MargoRp91.360.000, 1 unit Kampung Purwa Jaya Kec. Banjar Margo Rp 91.360.000, 1 unit Kampung Panca Tunggal Jaya Kec. Penawar Aji Rp 91.360.000  dan 1 unit sumur bor di bangun di Kampung Paduan Rajawali dengan pagu sebesar Rp 91.360.000.

Bahwa berdasarkan data rincian kegiatan Pembangunan sumur bor diatas, ditemukan adanya dugaan Mark-Up pada beberapa item pekerjaan yang tertera dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang dibuat oleh konsultan perencana, kuat dugaan ada pekerjaan yang dinilai berpotensi terjadinya kebocoran anggaran milyaran rupiah. Pasalnya, dalam pembangunan sumur bor tersebut terdapat item pekerjaan pelebaran lubang yang total satuan biayanya menghabiskan Rp 20 juta lebih tersebut terindikasi tidak mungkin dilaksanakan, pekerjaan pelebaran lubang bor tersebut terindikasi hanya untuk membengkakan biaya pekerjaan saja, sehingga pagu anggaran dalam pembuatan sumur bor dapat membengkak.

Dalam RAB dijelesakan pada pekerjaan Pengeboran Pada Diamensi Penampang: a. Diameter 12” Volume 5 meter dengan jumlah biaya Rp 1.954 rb, b. Diameter 6” volume 45 meter dengan jumlah biaya Rp20.500 rb. Anehnya Diameter lubang sumur bor tersebut dilakukan Pelebaran kembali yaitu dari diameter 6” menjadi 10” dengan volume 5 meter dengan jumlah biaya Rp 2 juta, dan Dari diameter 6” menjadi 8” dengan Volume pekerjaan 45 meter dengan jumlah biaya Rp 18.300 rb, sedangkan pipa jambang (Casing) dan pipa naik dan carne yang dipakai adalah pipa dengan diameter 6” dengan Volume 5 meter dan pipa naik dan crane dengan diameter 4” dengan volume 40 meter.

Pelebaran sumur bor tersebut harusnya tidak perlu dilakukan, pasalnya, pada item pekerjaan Pengeboran Pada Diamensi Penampang telah dibuat lubang bor dengan Diameter 12” dengan Volume kedalaman 5 meter dan lubang sumur bor berdiameter 6” dengan volume kedalaman 45 meter, apa bila pipa cesing memakai pipa berdiamensi 6”  dengan kedalaman 5 meter cukup menggunakan lobang 12” yang telah ada dan tidak perlu dilakukan pelebaran kembali, begitu juga dengan lubang bor berdiamensi 6” untuk pemakain pipa naik dan crane dengan diameter 4” tidak perlu dilakukan pelebaran lubang menjadi 8”.

Dalam RAB pembangunan sumur bor pertanian dengan kedalaman 50 m tersebut tidak menganggarkan gravel pack berupa batu-batuan keras dengan ukuran 8 mm – 10 mm. Penempatan gravel pack sendiri untuk ditempatkan  ke dalam rongga annulus di sekeliling pipa produksi, artinya setelah pemasangan pipa sumur selesai dan sesuai dengan yang direncanakan maka gravel pack dengan ukuran yang telah ditentukan dimasukkan ke dalam rongga di luar pipa sumur didalam lubang bor (ruanganulus), jadi apabila ada pekerjaan pelebaran diamensi lubang sumur bor pastilah konsultan perencana akan memasukan pengadaan gravel pack dalam RAB tersebut.

Jadi sudah sangat jelas untuk pekerjaan pelebaran lubang bor yang menelan anggaran bekisar Rp 20 jutaan lebih dalam satu titik pembangunan sumur bor tersebut,  merupakan pekerjaan yang dapat dikategorikan hanya sebagai pembengkakan anggaran dan dapat bersifat pemborosan biaya, karna dalam pekerjaan pelebaran dimensi sumur bor yang dianggarakan dalam RAB tersebut diduga tidak dilakukan oleh pihak rekanan, pasalnya diamensi pipa cesing dan pipa naik serta crane yang dipakai lebih kecil dari diamensi sumur bor pada pekerjaan pertama pengeboran jadi tidak perlu lagi dilakukan pelebaran diamensi sumur bor.

Dalam proses pembangunan sumur bor yang dilakukan oleh Dinas Pertanian pada tahun anggaran 2017 khususnya pada proses pekerjaan pengeboran tidak ada yang berbeda dengan pembangunan sumur bor untuk air bersih milik warga, lubang yang di bor berdiameter sesuai dengan diameter casing yang akan dipergunakan, alias lubangnya ngepres dengan pipa cesing yang dipakai, karna pipa cesing tersebut untuk penahan longsor, “kalau pipa cesingnya longgar karna lobanggnya kegedean pasti tanahnya longsor lah pak” ujar Warga Kampung Cempaka Kecamatan Menggala Timur Edi.

Kalau memeng benar semua RAB pembangunan sumur bor pertanian tahun anggaran 2017 semuanya sama dan ada item pekerjaan pelebaran diamensi lubang bor, bisa dibayangkan berapa uang negara yang raib, “apabila dalam RAB semua Pembangunan sumur bor pertanian dianggarkan Rp 20 juta untuk pekerjaan pelebaran diamensi lubang bor maka dalam 50 titik sumur bor kerugian negara bisa mencapai Rp 1 milyar lebih” ujar Suhaimi Warga Banjar Margo.

Lanjut Suhaimi Dengan anggaran Rp 91.360.000 dengan spesifikasi pekerjaan hanya pembuatan sumur bor kedalaman 50 meter dan menggunakan kesing hanya 6 inci 5 meter dan 40 meter dengan bak penampung serta mesin disel untuk aliran listri nya seperti itu saja, gak mungkin menghabiskan anggaran sebanyak itu, itu namanya sudah gak bener yang buat Rab, pekerjaan ini patut ditindak lanjuti oleh penegak hukum, karna dapat dipastikan adanya indikasi kerugian negara yang cukup lumayan besar dalam pekerjaan tersebut.

Jadi kami sebagai masyarakat meminta para penegak hukum dapat menyelidiki adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam pembangunan sumur bor pertanian yang dilakukan oleh Dinas pertanian pada tahun anggaran 2017, karna uang yang digunakan adalah uang rakyat yang penggunaannya haru dapat dipertanggung jawabkan, Pinta Suhaimi.

Berdasarkan data dan informasi yang berhasil diperoleh dilapangan ditemukan pembangunan sumur bor pertanian yang menggunakan pipa cesing dengan diamensi ukuran 4-5” saja seperti pada pembangunan sumur bor di Kampung Mekar Jaya Kecamatan Banjar Margo dan ditemukan adanya penempatan titik lokasi di samping rumah kepala gapoktan dan di persawahan, yang dinilai penempatan titik lokasi tersebut tidak sesuai dengan tujuan pembangunan sumur tersebut.

Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tulangbawang Valeri Wahab ketika dikonfirmasi di ruangannya mengatakan, saya akan melakukan kordinasi terlebih dahulu dengan Kepala Dinas terkait permasalahan ini, karna dalam kegiatan itu saya bukan selaku PPK atau PPTK, jelasnya belum lama ini (3/10). Sementara Sampai berita ini diturunkan PPTK Pembangunan sumur bor Pertanian Rifa’i belum berhasil dikonfirmasi, begitu juga dengan Yoga selaku PPK.(Angga-Jun)