BUMK di Lamteng Disiapkan Jadi Pemasok E-Warung

Bumk Di Lamteng Disiapkan Jadi Pemasok E Warung

Gunung Sugih – Sejumlah Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) disiapkan untuk menjadi supplier atau pemasok e-warung dalam program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Lampung Tengah. Pengelola BUMK diberikan pembinaan pada program penguatan kapasitas BUMK di kebun edukasi, Minggu, 6 September 2020.

Forum BUMK Lampung Tengah, Anwar, mengatakan melalui forum ini dibangun komunikasi antarpengelola BUMK. Selain untuk saling tukar informasi, forum ini juga untuk penguatan kelembagaan BUMK.

Menurut Anwar ada pengelola enam BUMK yang hadir. BUMK-BUMK ini nantinya akan mencoba mengawali usaha sebagai supplier e-warung.

Ketua DPRD Lamteng Sumarsono mengatakan ia mendorong BUMK jadi supplier e-warung agar perekonomian kampung meningkat.

“Seluruh potensi yang ada di kampung dimanfaatkan. Dengan demikian, KPM mendapat bantuan pangan yang lebih baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Selain itu ekonomi bergerak karena bahan makanan diambil dari wilayah setempat. BUMK berkembang dan mampu menghasilkan pendapatan untuk kampung. Mulai hari ini sedikit demi sedikit kami lakukan penguatan kelembagaan BUMK. Pelatihan semacam ini bergulir terus sampai semua BUMK siap maju dan berkembang,” kata Sumarsono.

Kabid Pengembangan Usaha Ekonomi Kampung Dinas PMK Lamteng, mewakili Kepala Dinas PMK Firdaus Rokain, mengatakan dari 297 BUMK se-Lamteng, diperkirakan 10 persennya atau 29 BUMK telah memiliki kapasitas untuk menjadi supplier e-warung.

“Mengingat tidak adanya ketentuan khusus, supplier e-warung bisa siapa saja, termasuk BUMK. Jika terealisasi, penguatan kelembagaannya akan didampingi Dinas PMK, sementara perannya sebagai supplier didampingi dinas terkait lainnya,” katanya.

Dia mengatakan hingga saat ini, dari 297 BUMK se-Lamteng, baru BUMK di Varia Agung yang berhasil menjadi supplier e-warung.

Pengelola BUMK Agungjaya, Kampung Varia Agung, Seputih mataram, Sella Agustina, mengatakan untuk mengawali usaha sebagai supplier e-warung pada program BPNT, yang diperlukan pertama dukungan Kepala kampung, penguatan mental pengelola BUMK dan membuat jaringan agar BUMK memperoleh bahan pangan dari tangan pertama.

Dengan demikian, lanjut dia, BUMK bisa memberikan bahan pangan berkualitas baik dalam jumlah memadai, tetapi tetap untung dari sisi usaha.

“Kami sudah dua bulan jadi supplier. Bulan pertama BUMK untung Rp8 juta, bulan kedua Rp10 juta. Kemampuan kami sempat diragukan, tetapi kami bisa,” kata Sella. (LP)

Share