Dalam Menangani Orang dengan Gangguan Kejiwaan Keterjangkauan Obat dan SDM Sangat Penting

Keterjangkauan Obat Dan Sdm Penting Dalam Menangani Orang Dengan Gangguan Kejiwaan

dr Tendri Septa, dokter spesialis di Rumah Sakit Jiwa.Dok.

Bandar Lampung – Wilayah Bandar Lampung diresahkan dengan banyaknya orang dengan gangguan kejiwaan berkeliaran yang melakukan perbuatan yang membahayakan orang lain. Pemerintah harus menyikapi kondisi tersebut dengan tegas.

“Untuk mengatasi orang yang mengalami gangguan gila dengan bantuan sosial dan dukungan moril,” ujar dr Tendri Septa, dokter spesialis di Rumah Sakit Jiwa Lampung, Selasa, 15 September 2020.

Selain dukungan moril, peran pemerintah juga sangat diharapkan, seperti menyediakan dan memberikan stok obat-obatan. Sebab, keterjangkauan obat serta keterjangkauan SDM sangat dibutuhan saat ini.

“Karena di sini memang masih ada beberapa daerah yang kekurangan stok obat, bahkan SDM juga yang kurang sehingga pemerintah daerah diperlukan dalam mendukung RSJ dalam menangani masalah orang dengan gangguan jiwa ini,” katanya. 

Selain itu, pemahaman edukasi dari keluarga juga sangat diperlukan karena memiliki orang dengan gangguan jiwa tidak mudah, seperti halnya tingkat pendidikan yang sulit untuk memahami apa yang disampaikan.

“Kemudian, yang harus dilakukan jika kita melihat orang dengan gangguan jiwa tidak hanya orang tua yang diharapkan, masyarakat juga dapat melakukan peran serta. Sebab, perlu diketahui banyak orang yang mengalami gangguan jiwa itu karena permasalahan ekonomi,” ujar dia. 

Selain itu, kata dia, banyak masyarakat Lampung yang menyambungkan permasalahan gangguan jiwa dengan hal mistik saat dibawa ke rumah sakit. Hal itu tentunya akan mempersulit kejiwaan membaik.

“Seharusnya orang yang mengalami gangguan jiwa segera dibawa berobat ke rumah sakit. Kemudian dilanjutkan dengan rangkulan dari keluarga untuk penguatan dan pemahaman karena orang yang mengalami gangguan jiwa perlu peran serta dan gandengan tangan,” katanya.

Menyikapi penusukan Syekh Ali Jaber dan dicurigai pelaku merupakan orang gila, dokter yang bertugas di TSJ tersebut menerangkan orang yang memiliki gangguan jiwa bukan berarti akan bisa langsung lolos dari jeratan hukum jika melakukan tindak kriminal.

“Pada saat melakukan pelanggaran hukum posisi tidak sedang dalam gangguan jiwanya, yang bersangkutan bisa diproses hukum. Kemudian nantinya akan dilihat gangguan jiwa seperti apa yang menimpa pelaku kejahatan alami atau tidak. Sebab, gangguan jiwa sangat banyak,” ujarnya.

Untuk mengetahui apakah orang mengalami gangguan jiwa dapat dilihat dalam analisis dan mengobservasi serta beberapa pengujian pada saat yang bersangkutan ditelantarkan. Kalau seandainya yang bersangkutan itu memanipulasi atau lainnya bisa terlihat. Namun, tetap cukup sulit jika hanya satu kali untuk menentukan mengalami gangguan jiwa atau tidak. (LP)

Share