Diduga Ada Permainan, SPBU Langka Solar

0
36

Bandar Lampung – dugaan kekosongan BBM subsidi jenis solar di beberapa SPBU di kota bandar Lampung, diduga SPBU yang mengalami kekosongan telah melakukan kegiatan pengecoran  

Dari pantauan media pengiriman pasokan solar di beberapa SPBU di kota Bandar Lampung paling sedikit 8 kL /8000 liter hingga mencapai 18 KL /18000 liter tergantung besarnya kebutuhan koata jual di SPBU.

Sementara jumlah pemakaian solar untuk sekitar kota bandar Lampung per hari diduga  hanya sekitar 3 hingga 5 ton dalam sehari .

Seperti halnya yang di utarakan salah satu pengawas di spbu yang enggan disebutkan namanya ” gimana tidak kosong untuk umum, mau di kirim sehari hingga 24 ton juga pasti langsung habis orang tiap masuk solar di sedot langsung. Ungkap nya.

Lanjutnya SPBU saya pengiriman hanya 8 KL coba di liat tiap hari apa pernah kehabisan apa lagi hingga kosong, kalau untuk umum tapi kalau dulu masih aktifitas ngecor iya sehari langsung abis”kalau sekarang paling banyak terjual cuma 3 hingga 5 ton,jadi mustahil kan kalau tidak adanya aktifitas kendaraan siluman bisa kosong setiap spbu itu berbeda jumlah pengirimanya tidak sama.

Saat dikonfirmasi awak media,  Ketua Bidang SPBU Hiswana Migas Lampung, Donny Irawan meminta pihak berwenang untu segera bertindak .

“Saya minta dengan kekosongan solar ini, pihak polda memanggil pejabat pemasaran PT Pertamina di Lampung, agar hal ini tidak terjadi lagi,”  dan diharapkan agar semua SPBU mementingkan pelayanan masyarakat umum, karena bbm bersubsidi itu untuk masyarakat miskin. Ungkap Doni Minggu, (22/9).

Menanggapi tudingan beberapa  pemberitaan media tentang kekosongan bbm jenis solar ” Sr.Sales Executive Retail Wilayah IV, PT Pertamina Cabang Lampung Edwin Shabriy mengatakan bahwa tudingan kelangkaan, dan marak diberita itu adalah tidak benar. Kondisi Stok dan distribusi dalam keadaaan baik, aman dan lancar.

“Sehubungan dengan maraknya pemberitaan kekosongan biosolar/solar di beberapa daerah di Lampung dikarenakan adanya ketidakadilan pembagian alokasi, bahwa dapat kami sampaikan bahwa hal tersebut tidak benar. Saat ini stok solar di SPBU Lampung dan di TBBM Panjang sangat cukup dan aman. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dengan pemberitaan yang ada,” kata Edwin Shabriy kepada wartawan  Minggu 22 September 2019, malam .

Menurut Edwin Shabriy, mengenai pembagian alokasi per SPBU harus disesuaikan dengan beberapa faktor kajian teritorial, diantaranya traffic kendaraan dan kebutuhan masyarakat sekitar SPBU. Sehingga SPBU di daerah lintas dan kota pasti beda besaran alokasinya bila dibanding SPBU di daerah pelosok/rural atau daerah bukan jalur lintas.

“Misal di jalur lintas biosolar diberikan alokasi 8KL/hr, pastinya tidak akan cukup, malah nantinya bisa menimbulkan masalah lainnya bila biosolar/solar sampai kosong. Bila di daerah pelosok/rural diberikan alokasi besar misal 40KL/hr sedangkan di daerah tersebut traffic kendaraan sangat rendah, juga akan menimbulkan potensi masalah lain, yaitu potensi penyimpangan penjualan solar subsidi. Tentunya kita sama-sma ingin solar subsidi ini tepat sasaran dan dinikmati oleh konsumen yang berhak,” kata Edwin Shabriy

Tahun 2019 ini, lanjut Edwin Shabriy, kuota BBM solar subsidi secara nasional memang ada pengurangan oleh BPH Migas, jadi bukan akal-akalan Pertamina, “Hal ini juga disertai dengan adanya peraturan BPH migas yang baru mengenai pembatasan pembelian BBM solar subsidi oleh konsumen dengan kendaraan roda 6 (enam) atau lebih dan beberapa jenis kendaraan lainnya yaitu Surat Edaran BPH Migas No. 3865.E/KA BPH/2019 tentang Pengendalian Kuota JBT Tahun 2019,” katanya.

Edwin Shabriy menegaskan bahwa menyikapi hal itu Pertamina MOR II juga telah berkoordinasi dengan stakeholder dalam hal ini Gubernur dan Polda terkait. Disamping itu untuk mengakomodir kebutuhan konsumen, SPBU Pertamina juga menyediakan produk alternatif solar/biosolar yaitu Pertamina Dex dan Dexlite yg tersedia di SPBU Pertamina.

“Kita sudah kordinasi dengan semua pihak, Gubernur selaku pemerintah daerah, Polda Lampung dan pihak terkait. Termasuk dengan maraknya berita berita ini. Sehingga justru tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” katanya(riski)