Fakta-fakta Gempa M 6,9 yang Berpusat di Laut Banda Semalam

Jakarta – Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan pihaknya mencatat ada beberapa fakta terkait gempa bermagnitudo 6,9 yang berpusat di Laut Banda. Apa saja fakta-faktanya?

Pertama, Daryono menjelaskan terkait pemutakhiran data kekuatan gempa yang sebelumnya diinformasikan gempa berkekuatan 7,3 magnitudo menjadi 6,9 magnitudo. Daryono mengatakan pemutakhiran data ini lazim dilakukan oleh lembaga monitoring gempa bumi mana pun.

“Untuk mendapatkan magnitudo gempa yang akurat, selanjutnya para analis gempa di BMKG kembali mengolah data sebanyak-banyaknya hingga memperoleh magnitudo update yang stabil M 6,9. Proses updating atau pemutakhiran magnitudo gempa semacam ini adalah hal biasa dan lazim dilakukan oleh lembaga monitoring gempa bumi di mana pun juga,” kata Daryono kepada wartawan, Kamis (7/5/2020).

Daryono menjelaskan pihaknya harus menginformasikan gempa ke publik secara cepat dengan maksud agar memberikan peringatan ke masyarakat.

“Mengapa BMKG harus cepat dalam menginformasikan parameter gempa? Karena, selain bertugas memberikan informasi gempa, BMKG bertanggung jawab memberikan peringatan dini tsunami yang harus segera disampaikan kepada masyarakat pesisir. Banyak pantai kita lokasinya dekat dengan sumber gempa dengan ketersediaan waktu penyelamatan dari tsunami sangat singkat,” katanya.

Kedua, Daryono menegaskan gempa semalam itu terjadi akibat adanya deformasi batuan pada bagian Lempeng Banda di Zona Benioff, sehingga gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Kemudian dia mengatakan gempa ini berpusat di kedalaman menengah, yakni 97 km. Dari analisis BMKG, gempa ini muncul dengan didahului dengan gempa pendahuluan.

“Gempa kuat di Laut Banda tadi malam adalah gempa yang berpusat di kedalaman menengah (97 km). Munculnya gempa kuat di kedalaman menengah ini sebenarnya sudah ditandai dengan munculnya aktivitas gempa-gempa kecil yang membentuk klaster pusat gempa menengah sejak April 2020,” jelasnya.

Fakta keempat, sumber Gempa Banda tadi malam berada di Banda Slab (Lempeng Banda yang tersubduksi) dan tidak bersumber di Banda Detachment (bidang gelincir patahan Banda) di zona Weber Deep. Dia juga menepis kabar simpang siur yang dibicarakan masyarakat di media sosial.

“Karena hiposenternya yang cukup dalam, gempa ini memiliki spektrum getaran yang dirasakan mencakup wilayah yang sangat luas. Guncangan gempa ini dilaporkan dirasakan hingga di Manokwari dan Waingapu,” katanya.

Menurutnya, peristiwa gempa kuat di Laut Banda tadi malam juga salah satu bukti bahwa sistem subduksi Laut Banda masih sangat aktif. Gempa ini juga disebut terjadi di lokasi gempa kuat yang dicatat BMKG.

“Lokasi hiposenter gempa Banda tadi malam berada di kawasan yang menurut catatan sejarah gempa merupakan ‘sarang’ gempa kuat di Zona Subduksi Banda. Catatan gempa dahsyat di lokasi ini sudah terjadi beberapa kali, yaitu gempa Banda 1918 (M 8,1), 1950 (M 8,1), 1963 (N 8,2), dan terakhir 2019 (M 7,7). Beberapa gempa kuat ini dirasakan guncangannya hingga Benua Australia,” pungkasnya. (Dtk)

Share