Kebun Coklat Kawasan Register Pesawaran Diserang Hama

Kondisi tanaman coklat yang rusak di Kawasan Register, Pesawaran.

PEsawaran – Petani pengelola hutan kawasan register di Pesawaran, mengeluhkan tanaman cokelat yang mengalami kerusakan dan terserang penyakit. Kondisi itu membuat hasil panen pun tidak maksimal.

Salah satu petani Desa Wiyono Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran, Hariadi, mengatakan rusaknya tanaman cokelat tersebut setelah musim kemarau yang menimpa beberapa waktu lalu dan hama ulat yang menyerang pohon. 

“Selain pohon, buahnya juga banyak penyakit yang menyerang, seperti bijinya yang kosong, kalau petani bilang brekele. Ditambah umur pohonnya yang tua, sehingga hasilnya kurang maksimal dan sudah waktunya untuk diperbarui,” ujarnya, Jumat, 5 Februari 2021.

Dia berharap, pemerintah pusat maupun Provinsi Lampung, bergerak cepat mencarikan solusi terhadap masalah yang menimpa petani tersebut. 

“Hampir semua petani kawasan mengalami nasib yang sama. Kami berharap pemerintah dapat menurunkan tim untuk melihat kondisi ini atau mengeluarkan peraturan yang memperbolehkan petani mengganti tanaman lain,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Pesawaran, Anca Martha Utama, mengatakan untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) turun ke lokasi untuk melihat keadaan yang di lapangan. 

“Pesawaran ini kabupaten penghasil kakao terbesar di Lampung. Saat ini ada sekitar 30 ribu hektare lahan kakao. Dari yang ada itu salah satu penunjangnya ada di kawasan register seluas 10 ribu hektare,” ujarnya.

“Jadi hampir semua tanaman kakao di kawasan register itu rusak, karena memang tanaman itu dari jaman Belanda sudah ada. Tapi Ditjenbun turun dan mereka sudah tahu penyebab dan jalan keluarnya” kata dia.

Dirinya mengatakan, ada hal hal yang membatasi Pemkab Pesawaran untuk mencarikan jalan keluar atas permasalahan itu. Mengingat kawasan registrasi masuk ke dalam kewenangan dinas kehutanan Provinsi Lampung.

“Kalau upaya kami yang menyelesaikan masalah itu, maka kami salah. Tapi Ditjenbun turun dan kami ajak keliling untuk melihat kondisinya. Tinggal tunggu hasil rapat untuk jalan keluar permasalahan ini,” ujarnya.  (LP)

Bagikan