Keluarga Korban Pencabulan Mengadu ke Polda Karena Laporan Mandek di Polres Lampura

Laporan Mandek Di Polres Lampura Keluarga Korban Pencabulan Mengadu Ke Polda

Jaka Permana (tengah) perwakilan PBH DPC Peradi Bandar Lampung.

Kota Bumi – Nasib malang menimpa R (16), warga Lampung Utara, yang menjadi korban perbuatan bejat pria berinisial K (18) hingga hamil. Kini kehamilan R memasuki usia tiga bulan.

Awalnya, keduanya diduga memiliki jalinan asmara yang sudah berlangsung tujuh bulan. Korban diduga dibawa kabur  pelaku dua hari.

Ayah korban berinsial R yang bekerja sebagai buruh pemecah batu bersama dengan kerabatnya mencoba mencari keberadaan anak gadisnya. Keluarga korban sempat menghubungi pelaku yang membantah membawa kabur anaknya.

Karena tak percaya, keluarga korban mencari informasi hingga korban dan pelaku ditemukan tengah berada di hotel melati di Telukbetung, Bandar Lampung, pada 14 Juli 2020. Kemudian korban diambil keluarganya dan menceritakan dugaan perbuatan tak senonoh pelaku.

Akhirnya K pun dilaporkan ke Mapolres Lampung Utara pada 16 Agustus 2020, dengan nomor laporan LP/684/2020/Polda LPG/SPK Res Lampung utara. Namun hingga saat ini, tak ada perkembangan atas laporan tersebut sehingga ayah korban didampingi Pusat Bantuan Hukum (PBH) DPC Peradi Bandar Lampung mengadu ke Polda Lampung.

Jaka Permana, kuasa hukum pelapor dari PBH DPC Peradi, mengatakan pihaknya telah menyambangi Polda Lampung dua kali, yakni pada Sabtu, 22 Agustus 2020, dan Senin 24 Agustus 2020.

“Kami mendatangai kabag Wasidik Ditreskrimum Polda Lampung, fokus bagaimana percepatan penanganan perkara. Berdasarkan laporan dari klien, ada penggantungan perkara dari Polres Lampung Utara,” ujar Jaka, Selasa 25 Agustus 2020.

Dari keterangan R yang disampaikan ke DPC Peradi, dari surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) yang diterima pelapor, aparat sudah dua kali mendatangi kediaman terlapor, namun disebutkan tidak ada di tempat. Sedangkan dari informasi yang didapat PBH DPC Peradi, K masih berkeliaran di Lampung Utara.

“Kami sudah berkoordinasi dengan bagian wasidik Dirreskrimum Polda Lampung, ini harus dibangun komunikasi dengan Polres Lampung Utara. Ini kejahatan extraordinary, perlu cara-cara luar biasa agar pelaku bisa terbukti dan ditangkap. Apalagi kata orang tuanya perut sang anak makin membesar dan psikologis korban tertekan,” katanya.

Keluarga korban berharap Polda Lampung bisa melakukan supervisi atau membantu penanganan perkara yang sedang dilidik Polres Lampung Utara. 

Namun hal yang lebih menyedihkan, meski tak ada hubungannya dengan dugaan perbuatan pencabulan oleh K, korban diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. Sejak Maret 2020 hingga Juli yang lalu, korban diduga sudah 20 kali diperjualbelikan ke lelaki hidung belang.

“Pascadijemput orang tuanya dari penginapan, dia trauma, akhirnya diceritakanlah ada masalah yang lain, kalau dia diduga dijual orang (muncikari) sekitar 20 kali,” katanya.

Kejadian bermula saat korban sedang nongkrong dengan temannya, kemudian dikenalkan dengan seseorang yang diduga muncikari. Korban menerima saat dijanjikan sebuah pekerjaan, namun ketika diajak naik ke mobil dan diceritakan apa yang harus ia jalankan, korban menolak.

Lalu korban diancam dengan foto-foto yang sudah diambil secara diam-diam dan akan disebarkan ke teman dan keluarga jika menolak. “Namanya anak-anak dijanjikan uang. Kalau dia sampai lapor nanti disebar, kamu (korban) malu sendiri, makanya korban makan pil pahit lagi karena itu dia tertekan secara psikologis,” katanya.

Terkait dugaan trafficking, Peradi Bandar Lampung berencana juga melaporkan hal tersebut ke Polda Lampung. “Cuma untuk ini (perdagangan orang), kami masih cari bukti-bukti dulu yang kuat, kasihan soalnya psikologis korban,” ujarnya. (LP)

Share