La Nina Pembawa Bencana Alam, BMKG Imbau Warga Lampung Untuk Waspada

Pemerintah Provinsi Lampung melakukan rapat koordinasi kesiapan menghadapi musim pengujan.

Bandar Lampung – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik, saat ini La Nina sudah teraktivasi di Pasifik Timur. Kondisi ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan wilayah Indonesia pada bulan-bulan ke depan hingga April 2021 jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Fenomena La Nina dapat berdampak pada anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi. Namun, dampak tersebut sangat bergantung pada musim dan bulan, wilayah serta intensitasnya. La Nina dapat memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sehingga potensi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor kedepan perlu diwaspadai. Perlunya kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada Oktober dasarian I dan II. 

Dampak La Nina tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia. Namun prakiraan awal musim hujan akan berlangung pada Oktober dengan wilayah teridentifikasi di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat. Kemudian juga untuk wilayah Sumatera, seperti di pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka, dan Lampung. 

Presiden Joko Widodo juga memerintahkan jajarannya mengantisipasi dampak La Nina. Jokowi meminta semua kemungkinan bencana hidrometeorologi diantisipasi. Semua pihak menyiapkan diri, mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi. Kemudian juga dampak dari La Nina ini terhadap produksi pertanian agar betul-betul dihitung terhadap sektor perikanan dan juga sektor perhubungan karena 20 sampai 40 persen.

Menanggapi hal tesebut, Plt Kepala BPBD Provinsi Lampung Indra Utama mengatakan bahwa jajarannya senantiasa siap siaga untuk kemungkinan bencana yang bisa saja terjadi kapan saja dan dimana saja. Oleh sebab itu pihaknya melakukan rapat koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung, BMKG dan seluruh BPBD Kabupaten/Kota.

“Dari hasil rapat satuan tugas dua kali posisi siaga, alat seperti eksavator dari Balai Jalan juga sudah diposisikan pada daerah yang berpotensi terjadinya longsor. Alat berat BBWS Masuji-Sekampung dan BPBD Kota/Kabupaten juga disiagakan,” katanya kepada Lampung Post, Kamis, 15 Okober 2020.

Melalui analisis maupun informasi peringatan dini cuaca dari BMKG, BPBD sebagai focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi, kabupaten dan kota untuk selalu waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya hidrometeorologi. Upaya dini pencegahan dan mitigasi harus dilakukan untuk mengurangi atau pun menghindari dampak bencana. 

Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya kesiapsiagaan, khususnya di lingkup keluarga. Kemudian, diskusikan d antara anggota keluarga langkah-langkah mengantisipasi ancaman yang mungkin terjadi, seperti mematikan aliran listrik, menyimpan dokumen penting di tempat aman atau menyiapkan tas siaga bencana.

“Kita mengimbau masyarakat untuk terus waspada. Kami punya Satgas dengan jumlah personel 30 orang. Kemudian juga di kabupaten/kota ada Satgas 20-30 orang. Ditambah juga nanti ada Satpol PP, TNI/PolriI serta RAPI juga siap bersinergi. Kita siap siaga bersama instansi lainnya,” katanya.

Sementara itu, BPBD Kabupaten Lampung Selatan akan melakukan konsulidasi lebih dahulu dengan dinas/instansi terkait, TNI dan Polri, guna membahas badai La Nina yang diprediksi menimbulkan banjir, longsor, dan tsunami. 

“Apalagi, BPBD Lampung Selatan tentunya kekurangan personel dan peralatan seperti alat berat serta operatornya. Oleh karena itu, kami akan koordinasi juga dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Lamsel bagaimana alat beratnya berapa yang siap dan bisa dipakai untuk menanggulangi bencana daerah. Jika¬†terjadi di wilayah kabupaten ini,” ujar Ketua Pelaksana BPBD setempat M.Darmawan, Kamis,15 Oktober 2020. (LP)

Bagikan