Manchester United Hidup Dalam Kesuksesan Masa Lalu, Seperti Liverpool Dulu

Sadio Mane David De Gea Manchester United Liverpool Gfyrmcgaeqqm11nd7sjsnvrag

Manchester, etalaseinfo.com – Manchester United sudah terlalu lama hidup dalam kesuksesan masa lalu, kata John Barnes, dengan eks bintang Liverpool itu melihat ada kemiripan situasi saat ini di Old Trafford dengan yang dialaminya di Anfield dulu.

Barnes, yang pindah ke Liverpool pada 1987, merupakan bagian dari skuad terakhir The Reds yang menjuarai kompetisi kasta tertinggi Inggris.

Setelah 30 tahun menanti, musim 2019/20 tampaknya akan menjadi akhir dari penantian Liverpool akan prestasi juara divisi teratas, dengan Jurgen Klopp akan membimbing pasukannya memutus dahaga trofi liga domestik yang berlangsung selama tiga dekade terakhir.

Bahkan di era Liga Primer, Liverpool sama sekali belum pernah juara. Mereka kalah bersaing sejak kemunculan United di bawah arahan Sir Alex Ferguson yang berkuasa pada era 1990-an.

Situasi serupa kini dialami United selama beberapa tahun terakhir, dengan Setan Merah mulai kehilangan stabilitas selepas ditinggal Ferguson yang pensiun pada 2013.

Barnes meyakini bahwa kini terlalu banyak pemain yang menganggap bahwa sudah bisa bermain untuk United maka merasa berada di klub terbesar, tak lagi memiliki gairah dan ambisi untuk mempertahankan standar klub yang telah dibangun oleh para pendahulu mereka.

Eks penggawa internasional Inggris itu mengatakan kepada beIN Sports: “Saya melihat ada kesamaan besar antara Manchester United dan Liverpool, kemiripan besar dan saya katakan kepada Anda.”

“Ketika saya pertama kali bergabung dengan Liverpool, mereka adalah tim yang sukses sebelum saya ada di sana dan tuntutan serta tekanan untuk menang menjadi hal yang paling penting, terlepas dari mereka sudah memiliki banyak bintang seperti Ian Rush, Kenny Dalglish dan memenangkan segalanya.”

“Tuntutan untuk menjuarai segalanya ada di sana. Lalu, tiba-tiba, Manchester United muncul pada awal tahun sembilan puluhan dan banyak hal berubah.”

“Jika Anda melihat seperti apa Liverpool setelah musim 1992/93, Liverpool masih merupakan klub besar, dan tampaknya para pemain di sana merasa senang di Liverpool tanpa harus memikul tanggung jawab untuk juara.”

“Jadi, ketika kami finis ketiga, keempat di liga, kami tetap pemain Liverpool, lebih besar ketimbang 99 persen tim, bahkan jika mereka finis di atas kami, Arsenal, siapa pun, tapi kami para pemain Liverpool tanpa tuntutan juara.”

“Jadi kami masih mendapatkan pujian, perasaan bahwa kami hebat, bahwa kami lebih baik dari yang lain karena kami adalah pemain Liverpool.”

“Sekarang dengan Manchester United, ketika Ryan [Giggs] ada di sana dan ia datang dan mereka mulai memenangkan semua trofi Liga Primer, terlepas dari apakah mereka juara di tahun sebelumnya, mereka memiliki tuntutan untuk juara.”

“Maka saya pikir setelah Manchester City diakuisisi, Manchester United masih klub terbesar, dan para pemain senang berada di sana tanpa memiliki tanggung jawab untuk juara.”

“Karena jika mereka finis ketiga dan Tottenham finis di atas mereka, mereka masih tetap lebih besar ketimbang para pemain Tottenham karne mereka bermain untuk Manchester United, dan itu terjadi di Liverpool dulu.”

Liverpool kini kembali menjelma sebagai kekuatan sepakbola Inggris, setelah melewati 2019 dengan torehan trofi Liga Champions, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub, serta tahun ini favorit memenangkan Liga Primer. (Goal)

Share