Milimeter Penentu Juara Liga Primer Inggris

0
4

London, etalaseinfo.com – Tinggal dua pertandingan tersisa di Liga Primer Inggris musim ini. Manchester City dan Liverpool masih bersaing ketat di puncak klasemen.

Tidak ada tanda-tanda kedua tim tersebut bakal menginjak pedal rem jelang garis finis pada 12 Mei mendatang. Maklum, The Citizens dan The Reds cuma dipisahkan jarak satu poin dengan selisih gol yang tidak terlalu jauh.

Biasanya, jika terjadi persaingan sengit semacam itu, banyak pemain maupun pelatih kerap mengatakan seperti ini: small details will make the difference. Ya, detail kecil akan sangat menentukan hasil akhir.

Detail kecil itu ternyata sungguh-sungguh terjadi secara harfiah dalam perebutan gelar EPL 2018/19. Kita sedang membicarakan GLT (goal-line technology) alias teknologi garis gawang.

Semua tahu peraturannya. Sebuah gol disahkan apabila seluruh bagian bola melewati garis gawang. GLT memastikan aturan itu ditegakkan tanpa kompromi, tanpa ada kesalahan manusia.

Musim ini, GLT beberapa kali punya andil besar untuk menentukan kemenangan sebuah tim yang pada akhirnya berdampak pada persaingan di klasemen. Sial bagi Liverpool, City-lah yang kali ini diuntungkan. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.

Paling anyar terjadi pada Minggu (28/4) lalu. City nyaris sepanjang laga dibuat frustrasi oleh pertahanan rapat tuan rumah Burnley. Namun, sebuah sontekan Sergio Aguero di pertengahan babak kedua jadi pembeda.

Bola tembakan Aguero tampak berhasil dihalau bek Burnley Matthew Lowton, tapi GLT telah mendeteksi terjadinya gol karena boia sudah berada 29,5 milimeter di dalam garis gawang. Itulah gol tunggal di Turf Moor. City membawa pulang tiga poin dan kembali memuncaki tabel.

Sebelumnya, pada Januari lalu, momen dramatis GLT juga tersaji dalam duel City versus Liverpool. Di awal laga, Liverpool seperti sukses membuka skor ketika upaya sapuan John Stones membentur kiper Ederson. Bola pun bergulir ke arah gawang, tapi Stones bereaksi cepat dengan menghalau bola secara heroik.

Sempat ada klaim gol, tapi GLT tidak mendeteksinya karena bola masih 11,2 milimeter lagi melewati garis gawang. Liverpool akhirnya kalah 2-1 di laga itu. Alur laga tentu akan sangat berbeda andai Stones terlambat sepersekian detik. Liverpool mungkin bisa menang atau paling tidak seri.

Andai pekan lalu City imbang melawan Burnley dan Januari lalu Liverpool menang di Etihad, Jurgen Klopp dan pasukannya mungkin sudah merayakan pesta juara. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Rasanya akan sangat menyakitkan bagi Liverpool apabila penantian juara selama nyaris 30 tahun harus batal karena ihwal milimeter ini. (Goal)