Pelaku Penikam Syeh Ali Jaber Membawa Pisau dari Rumah

Pelaku Penikam Syeh Ali Jaber Membawa Pisau Dari Rumah

Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto saat memberikan keterangan usai menyambangi pelaku penikaman Syekh Ali Jaber di Mapolresta Bandar Lampung.

Bandar Lampung – Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto akhirnya memberikan keterangan resmi soal penikaman Syekh Ali Jaber yang dilakukan A. Alpin Andrian (24). Aparat langsung mendatangkan psikater dari Rumah Sakit Jiwa Lampung, dr. Tendri Septa.

Dokter RSJ melakukan pemeriksaan atau observasi awal terhadap pelaku di Mapolresta Bandar Lampung. Dari pemeriksaan awal kepolisian dan psikiater, didapati informasi kalau pelaku memang membawa pisau dari kediamannya. Syekh Ali Jaber mengalami luka di bahu kanan sedalam 4 cm.

Kemudian juga dilakukan pemeriksaan urine pelaku, namun hasilnya negatif.

“Pemeriksaan awal, dia membawa (pisau) dari rumah, namun sedang didalami dokter jiwa bagaimana terkait informasi yang bersangkutan masih didalami secara science-lah, dari rumah sakit dan kepolisian,” ujar Purwadi di Mapolresta Bandar Lampung, Minggu malam, 13 September 2020.

Ditanya soal motif pelaku menikam Syekh Ali Jaber, aparat belum bisa memaparkan secara rinci.  “Sedang pendalaman, untuk pikirnya bagus, ada tanya ada jawab tapi isi pikirannya menurut dr. Tenri, yang menilai mungkin ada kelainan,” ujar alumnus Akabri 1988 itu.

Terkait apakah ada jaringan radikal atau kelompol tertentu di belakang pelaku, aparat juga masih melakukan pendalaman. “Itu juga masih didalami,” katanya.

Kapolda menjamin seluruh kegiatan Syekh Ali Jaber di Lampung akan tetap berjalan dan dikawal ketat kepolisian. Hal itu agar peristiwa tersebut tidak terulang. Dalam agenda Syekh Ali Jaber sedang menjalankan agenda satu juta hafiz Al-qur’an di Lampung dengan metode memberikan wisuda pada penghafal Al-qur’an.

“Jalan terus, nanti saya temui, beliau juga fisiknya bagus, malam ini juga tetap jalan. Kami melakukan pengawalan agar tidak terulang kejadian tersebut,” kata mantan Wakapolda Metro Jaya itu.

Psikater RSJ Lampung dr. Tendri Septa mengatakan pihaknya menyarankan agar kepolisian membawa pelaku ke RSJ untuk dilakukan observasi maksimal 14 hari, hingga hasil pemeriksaan kejiwaannya dalam bentuk visum et repertum psikiatrum bisa dikeluarkan.

“Nanti akan kami nilai, dia konsisten atau tidak, karena ada kemungkinan memanipulasi (kejiwaan),” ujarnya.

Ditanya apakah pelaku memiliki rekam jejak medis kejiwaan yang tercatat oleh RSJ, dr. Tendri memaparkan butuh pengecekan database terlebih dahulu. (LP)

Share