Pembangunan Proyek ABSAH – BBWSMS di Lampung Timur Diduga Tanpa Hibah

0
32

Lampung Timur, etalaseinfo.com -Proyek pembangunan 3 unit Bak Penampungan Air Bersih Sumber Air Hujan (ABSAH) yang dilaksanakan oleh Air Baku Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS), pada tahun 2019 melalui swakelola tersebut terindikasi sarat dengan penyimpangan alias bermasalah. Hal itu seperti dikatakan Suwarti kepala Desa Kalibening kecamatan Pekalongan Lampung Timur saat di wawancarai terkait adanya pekerjaan proyek ABSAH itu justru beliau mengatakan tidak tau.

” Gak tau saya mas kalo Dinas PU ada bangun bak tampung karena aparat Desa ndak ada yang beri tahu saya tuh, terkait hibah tanah warga hingga proyek selesai saya belum pernah ada tanda tangani itu.

“Pelaksanaan proyek tersebut diduga kuat menyalahi aturan dikarenakan fisik bangunan telah dikerjakan dan hampir rampung 100 persen namun fakta dilapangan kedapatan belum adanya hibah dari beberapa warga pemilik lokasi.

Proyek pembangunan ABSAH  tersebut terletak di tiga desa yakni Desa Ganti Mulyo, Dusun II dan Desa Ganti Warno serta Desa Kalibening Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur.

Berdasarkan pantauan awak media pada 3 unit pekerjaan itu tidak di pasang papan nama proyek, lebar bangunan sekitar 4×7 meter dengan kedalaman galian 2,5 meter serta didalam galian terlihat adanya sket-sket saringan ruangan yang berisikan batu koral, pasir, pecahan, ijuk batang aren, batu krikil, tumpukan arang dan pecahan batu bata, lalu satu ruangan lagi sebagai bak penampung air bersih hasil saringan untuk dikonsumsi warga kampung saat musim kemarau.

Menurut Subagiyo warga Desa Ganti Mulyo bahwa pihaknya dalam pelaksanaan pembangunan tidak dilibatkan, namun berdasarkan informasi, bangunan tersebut berawal harus ada tanah hibah dulu baru proyek dari PU provinsi itu dapat dilaksanakan, namun jika dinilai dari segi manfaatnya saya tak yakin air tampungan dari atap satu rumah ini bisa memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau, apa lagi untuk satu dusun itu sangat gak masuk akal makanya saya kira proyek itu bakal mubazir, hanya menghabiskan uang negara.

Dijelaskannya, lebih masuk akal justru dibuatkan proyek sumur bor, karena lebih nyata dan banyak manfaatnya. Kalo ini apa? air tampungan dari satu rumah warga yang masuk ke bak penampung itu paling juga bisa dipakai untuk serumah saja. Apalagi jika kemarau berbulan bulan pasti keringlah air dalam bak dengan alat pompa merk dragon itu.

Selain itu, Supian warga Desa Ganti Warno, mengatakan pihaknya telah menghibahkan sebidang tanah kepada Pemerintah. Namun administrasi hibahnya tidak jelas karena sampai hari ini belum ada selembar surat hibah yang ditandatangani, meskipun pekerjaan proyek ABSAH itu terbilang  sudah rampung. “Hibahnya belum selesai hingga kini belum saya tandatangani suratnya,” ungkap salah seorang warga yang memiliki lokasi proyek tersebut.

Diketahui bahwa Pengelolaan Hibah kepada Pemerintah Daerah diatur sesuai ketentuan Pasal 19 PMK Nomor 168/PMK.07/2008 tentang Hibah Daerah, yaitu dalam hal Pemerintah Daerah menerima hibah dari badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri, hibah dimaksud dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD), yang dibuat dan ditandatangani oleh Pemerintah Daerah dengan pemberi hibah.

Salinan NPHD tersebut disampaikan oleh Pemerintah Daerah penerima hibah kepada Menteri Keuangan cq. Direktur Jenderal dan instansi terkait.

Pertanggungjawaban pengelolaan keuangan hibah tersebut dilaksanakan melalui mekanisme APBD sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sementara itu Kordinator Proyek ABSAH Air Baku BBWSMS, Rizki didampingi Humas BBWSMS, Yanti saat dikonfirmasi mengatakan bahwa proyek tersebut mengacu pada proposal yang dikirim warga ke Balai.

Proyek tersebut dikerjakan swakelola, anggaran sekitar Rp. 200 juta terdapat di 6 titik yaitu 3 titik di Lampung Timur dan 3 titik di Lampung Selatan.

Dan “mengenai hibah kami mengacu pada proposal dari kelompok masyarakat  kalo hibah mungkin sudah ada biasanya sudah diurus jadi  pembangunan itu sudah tidak ada masalah.”terangnya” (Rozi/Din)