Peneliti: Ada Kemungkinan Rekombinasi Virus Di Trenggiling

Jakarta – Kemungkinan mutasi akibat rekombinasi antara virus corona yang ada di trenggiling dengan yang ada di kelelawar bisa menjadi penyebab virus itu bisa menginfeksi manusia seperti yang terjadi saat ini dengan Covid-19 (Corona Virus Disease 2019), kata peneliti mikrobiologi Sugiyono Saputra.

“Asumsinya bisa jadi memang ada rekombinasi antara virus yang dari kelelawar dengan yang ada di trenggiling itu yang terus mengalami mutasi sehingga akhirnya bisa menginfeksi manusia. Itu masih berupa kemungkinan-kemungkinan,” kata peneliti di Pusat Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu ketika dihubungi dari Jakarta, Kamis.

Rekombinasi genetika merupakan proses pemutusan seunting bahan genetika yang diikuti dengan penggabungan dengan molekul lainnya, baik DNA maupun RNA.

Sebelumnya, virus corona jenis baru yang kini dikenal sebagai Covid-19 muncul pertama kali di Wuhan, China. Virus itu menginfeksi manusia dan menyerang pernapasan dengan gejala awal mirip dengan flu.

Virus itu sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 60.000 orang di seluruh dunia dengan kasus yang paling banyak ditemukan di daratan China.

Sampai berita ini diturunkan sudah 1.369 orang meninggal dunia akibat terinfeksi virus itu dengan kematian terbanyak tercatat di Provinsi Hubei, China dengan 1.310 korban jiwa.

Menurut data, sejauh ini baru 6.212 orang yang dinyatakan sembuh dari virus tersebut.

Virus corona, yang menjadi penyebab penyakit itu, biasanya ditemukan di kelelawar. Tapi South China Agricultural University menyampaikan hasil penelitian terbaru mereka yang menyimpulkan urutan genom virus corona dari trenggiling dalam penelitian 99 persen identik dengan yang diambil dari pasien yang terinfeksi.

Menurut mereka, dengan hasil seperti itu hewan yang terancam punah itu dapat berpotensi menjadi inang perantara yang memungkinkan infeksi terhadap manusia setelah mendapatkannya dari kelelawar sebagai inang utama.

Trenggiling sendiri, kata Sugiyono, memang memiliki virus corona sendiri dan satu virus lagi bernama sendai yang dominan berada di tubuhnya, yang kemungkinan menyebabkan rekombinasi dengan corona dari kelelawar.

“Tapi itu harus dilacak juga, pasien yang menjadi objek penelitian itu apakah memang pernah punya riwayat berinteraksi dengan trenggiling atau tidak, itu bisa memperkuat hipotesis. Kalau memang iya, kemungkinan besar memang bisa jadi awalnya dari trenggiling,” kata Sugiyono.

Trenggiling adalah mamalia bersisik yang terancam punah keberadaannya karena habitat yang semakin sedikit dan menjadi objek perdagangan hewan. (Ant)

Share