Pertamina Salurkan Modal Kemitraan “Pinky Movement” Untuk UMKM di Lampung

Img 20200911 Wa0014

PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) II Sumbagsel kembali menyalurkan program kemitraan “Pinky Movement” tahap dua.

Bandarlampung – PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) II Sumbagsel kembali menyalurkan program kemitraan “Pinky Movement” tahap dua, bagi UMKM di wilayah Lampung.

“Selain Lampung, kami juga menyalurkan bantuan kepada UMKM di Lahat, Sumatera Selatan,” kata Region Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Sumbagsel, Dewi Sri Utami, dalam keterangannya di Bandarlampung, Jumat.

Ia menmenyebutkan, Pinky Movement merupakan program pinjaman modal kepada UMKM terutama pangkalan elpiji yang bertujuan untuk mendorong pangkalan lebih ekspansif menjual produk elpiji nonsubsidi yaitu Bright Gas 5,5 kg atau elpiji 12 kg sehingga memudahkan masyarakat dalam mengakses produk Bright Gas.

Menurutnya, kali ini, dana pinjaman kemitraan yang digulirkan sebesar Rp1,05 miliar dengan menjaring 13 mitra dari pangkalan dan UMKM pengguna produk elpiji non subsidi.

Sebelumnya, lanjut dia, pada Juli 2020, telah disalurkan pinjaman kemitraan Pinky Movement untuk 16 mitra binaan sebesar Rp1,26 miliar.

Sementara total pinjaman modal yang disalurkan untuk berbagai sektor hingga minggu ke-2 September tercatat Rp20 miliar lebih, dengan total 147 mitra binaan yang ikut bergabung dari 5 Provinsi di Sumatera bagian selatan.

Region Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Sumbagsel itu, berharap program ini dapat lebih memudahkan UMKM untuk mendapatkan pinjaman modal dan pembinaan, serta diharapkan dapat mendukung peningkatan penjualan elpiji non PSO.

Kelebihan Bright Gas sendiri jika dibandingkan dengan tabung elpiji lain adalah teknologi DSVS (Double Spindle Valve System) atau katup ganda, yang akan tetap membuat tabung tersebut lebih terproteksi dari kebocoran tabung.

Program kemitraan Pertamina terbuka untuk UMKM yang bergerak di bidang pertanian, peternakan, perdagangan, perkebunan, perikanan, jasa, industri dan lain-lain.

Adapun syarat menjadi mitra yakni merupakan usaha milik sendiri, dimiliki oleh WNI, usaha telah berjalan minimal 6 bulan, aset bersih maksimal Rp500 juta, memiliki prospek bisnis yang bisa dikembangkan dan lain-lain.

Salah satu penerima pinjaman modal, Nina Yaroh dari Pesisir Barat Provinsi Lampung bersyukur bisa mendapatkan pinjaman modal untuk memperluas usahanya.

“Saya bersyukur mendapatkan pinjaman modal dengan jasa ringan. Harapannya pinjaman akan saya gunakan untuk menambah tabung elpiji non subsidi agar warga mampu bisa mudah mendapatkan elpiji non subsidi di pangkalan terdekat,” ujar Nina. (Ant)

Share