Pulihnya Akan Lebih Lama dari Usai Tsunami, Phuket Jadi Kota Hantu

Phuket – Phuket menjadi kota mati saat pandemi virus Corona. Diprediksi, pulau itu bakal lebih sulit pulih ketimbang usai diterjang tsunami. Penari go-go Phuket duduk bermain ponsel di bar kosong.

Kolam renang kosong, kursi-kursi di restoran-restoran ditumpuk tinggi. Sebanyak 3.000 hotel di Patong tutup. Pantai yang biasanya penuh pengunjung juga melompong. Sampai-sampai penyu laut langka bisa menuju pantai dengan rileks.

Suasana itu jomplang dibandingkan tahun lalu. Lebih dari sembilan juta wisatawan mengunjungi Phuket, hingga menjadikannya destinasi wisata paling favorit kedua di Thailand setelah Bangkok.

Keputusasaan pun mulai membayangi pekerja wisata di Phuket. Sebagian bertahan, namun sebagian besar lainnya memilih banting setir bekerja apa saja untuk mendapatkan uang.

“Bos saya membantu staf untuk tetap memiliki pekerjaan, namun saya rasa kami tidak bisa bertahan setelah akhir tahun,” kata Jantima Tongsrijern, manajer bar Pum Pui, dan dikutip AFP, Jumat (9/10/2020).

Sepinya Phuket dari wisatawan berdampak besar terhadap ekonomi pengusaha, pekerja, dan warganya. Wisata memang menjadi motor kehidupan Phuket. Biasanya, Phuket mendapatkan 80 persen pemasukan dari wisata, sektor yang mempekerjakan 300.000 orang.

Tapi kini, puluhan dari ratusan pekerja itu kehilangan pekerjaannya. Sebagian besar pulang ke daerah asal. Sebagian lain memilih bertahan dengan gaji yang tak lagi utuh dan bergantung kepada distribusi makanan dari badan sosial.

Salah satu pemilik bar di Phuket, Orathai Sidel, menyebut dia bisa mendapatkan 100.000 baht atau Rp 42,7 juta dalam sebulan pada puncak kedatangan wisatawan.

Setelah bisnisnya terimbas COVID-19, kini dia menjual makanan ringan di pinggir jalan. Usaha itu menghasilkan USD 3 Rp 44 ribu per hari dan digunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Bagikan