Putuskan Kerjasama dengan RM, PO Famili Raya Dipolisikan

0
90

Bandarlampung, etalaseinfo.com —Pemilik Rumah Makan Semoga Jaya, Bandarlampung mensomasi dan mengadukan pimpinan PO Famili Raya ke polisi karena memutuskan kerja sama yang sedang berjalan secara sepihak. Akibatnya pemilik rumah makan mengalami kerugian ratusan juta karena sudah terlanjur merehab rumah makan di Masgar, Kabupaten Lampung Tengah.

Menurut Viki Sulastri, pemilik RM Semoga Jaya, ia menjalin kerja sama dengan PO Famili Raya sejak 12 Oktober 2019 dan berlaku hingga 12 April 2020. Namun terhitung Januari 2020, pihak PO Famili Raya memutus kerja sama secara sepihak.

Padahal dari ratusan penumpang– rata-rata 8 unit bus PO Famili Raya yang makan di rumah makannya– ia mengantongi pemasukan hingga Rp2 juta/hari.

Perinciannya 4 bus yang dari Sumatera ke Jawa dan 4 bus lainnya yang dari Jawa menuju Sumatera.

“Dengan diputusnya kerja sama maka bukan saja potensi kerugian selama 3,5 bulan yang seharusnya masuk.

Tetapi saya juga sudah menyewa dan merehab rumah makan di Masgar, Lampung Tengah senilai Rp180 juta. Ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi kesepakatan yang mengharuskan pemilik rumah makan menyediakan rumah makan dengan halaman parkir yang luas dan fasilitas yang lengkap,” ujar Viki kepada awak media di rumah makannya bilangan Jl Bypass, Bandarlampung, Selasa (21/1) siang.

Dijelaskannya, pemutusan kerjasama hanya disampaikan via telepon oleh Hafis, staf PO Famili Raya pada tanggal 3 Januari 2020.

Keesokannya semua bus PO Famili Raya tersebut dilarang mampir di rumah makan milik Viki.

Karena tidak terima diperlakukan sewenang-wenang, Viki melayangkan somasi ke pimpinan PO Famili Raya di Bangko, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, namun tidak direspon.

Baru setelah Viki membuat laporan pengaduan ke Polres Merangin, baru somasi Viki dijawab oleh Reno Saputra, direktur PO Famili Raya.

Dalam suratnya, Reno menjelaskan bahwa pemutusan kontrak karena ia menilai RM Semoga Jaya tidak menyediakan rumah makan yang memiliki lahan parkir yang luas dan fasilitas toilet yang memadai serta tidak berkordinasi dengan manajemen soal pinjaman sopir untuk membayar biaya penyeberangan.

Tudingan tersebut dibantah Viki dengan alasan, ia menyewa rumah makan dan merehabnya yang menghabiskan dana Rp180 juta. “Apa itu dikatakan kurang layak.

Saya rasa rumah makan ini yang paling bagus malah. Begitu juga soal pinjaman sopir saya selalu melapor ke manajemen PO. Bahkan setiap kali terjadi kecelakaan atau masalah dengan bus, saya turun tangan menyelesaikannya.

Termasuk kecelakaan terakhir yang
menimpa bus di Tarahan. Semuanya beres dan tidak ada barang penumpang yang hilang,” tegasnya.

Ditambahkan Viki, sebetulnya ia tidak ingin persoalan ini maju ke meja hijau dan bersedia diselesaikan secara kekeluargaan dengan catatan kerugian yang dideritanya
diganti manajemen PO Famili Raya.

“Kalau kontrak kerjasama yang akan berakhir tanggal 12 April nanti tidak dilanjutkan tidak apa-apa, tapi mbok ya diganti kerugian saya karena telah diputus sebelum kontrak berakhir,” tutur Viki sambil memperlihatkan kontrak kerjasama yang diteken di atas materai tersebut dan surat somasi serta pengaduan polisi. (Datuk)