Ratusan Gajah Afrika Mati Secara Misterius

Ratusan Gajah Afrika Mati Secara Misterius

Kombinasi menunjukkan gajah yang mati di Delta Okavango, Botswana pada Mei-Juni 2020. Yayasan National Park Rescue menyatakan sedikitnya 350 bangkai gajah di Delta Okavango ditemukan sejak awal Mei.

Afrika – Ratusan gajah mati secara misterius di Botswana, Afrika, dalam hitungan minggu. Para konservasionis mendesak pemerintah menyelidiki kejadian tersebut.

Dikutip Independent.co.uk, Jumat, 3 Juli 2020, setidaknya 350 gajah telah mati sejak awal Mei di Delta Okavango. Sebuah survei udara menemukan 70 % dari hewan raksasa lembut itu telah mati di dekat lubang berair. Penyebab kematian belum ditemukan. Pemerintah Botswana telah mengklaim bahwa kemungkinan kematian disebabkan oleh perburuan, keracunan oleh manusia, dan antraks, telah dikesampingkan.

Taring pada bangkai ditemukan utuh, menunjukkan perburuan gading bukan penyebab kematian. Anthrax adalah racun alami yang ditemukan di tanah di beberapa bagian Botswana dan telah diketahui kadang-kadang memengaruhi satwa liar, tetapi pihak berwenang mengatakan itu bukan penyebabnya.

“Hasil lab pada sampel yang diambil dari bangkai masih beberapa minggu lagi,” kata seorang pejabat pemerintah kepada The Guardian. Dr Niall McCann dari National Park Rescue yang bermarkas di Inggris menggambarkan kematian hewan-hewan itu sebagai  kejadian “luar biasa”.  

Menurut dia, para ahli konservasi lokal memperingatkan pihak berwenang pada awal Mei setelah menghitung 169 gajah mati selama penerbangan tiga jam di atas delta tersebut. “Sebulan kemudian, penyelidikan lebih lanjut mengidentifikasi lebih banyak bangkai, sehingga total menjadi lebih dari 350 ekor,” katanya kepada BBC.

“Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal jumlah gajah yang mati dalam satu peristiwa yang tidak terkait dengan kekeringan. Jika itu adalah sianida yang digunakan oleh pemburu liar, Anda pasti akan melihat kematian lainnya,” tambahnya.

Mary Rice, direktur eksekutif Badan Investigasi Lingkungan, mengatakan kepada The Independent erentetan kematian gajah di Botswana baru-baru ini sangat memprihatinkan.

“Ini memusatkan perhatian pada situasi yang pertama kali terungkap hampir dua bulan lalu; bahwa angka kematian saat ini sekarang mencapai 400 ekor dan penghitungan menimbulkan pertanyaan mengapa perlu waktu lama bagi pihak berwenang untuk mengambil tindakan segera untuk mengidentifikasi dan kemudian mengurangi dengan tepat apa yang menyebabkan kematian ini,” ujar dia.

Reputasi Botswana sebagai tempat yang aman dan benteng bagi satwa liar, terutama gajah dan badak, sekarang berada di bawah pengawasan internasional. Meningkatnya perburuan badak di Botswana, ditambah dengan matinya gajah-gajah ini, berarti bahwa reputasi itu telah pudar.

“Bagaimana Botswana menanggapi masalah-masalah ini akan menentukan apakah mereka tetap menjadi juara konservasi atau sebaliknya merupakan neraka bagi hewan-hewan tersebut. Botswana adalah rumah bagi sepertiga gajah yang hidup di Afrika,” ujarnya.

Warga setempat melaporkan melihat gajah berjalan berputar-putar sebelum sekarat. Banyak dari hewan itu tersungkur dengan wajah terlebih dahulu menyentuh tanah. Hal itu dapat mengindikasikan ada sesuatu yang menyerang sistem neurologis mereka. Dr McCann mengatakan penyakit (sebagai penyebab kematian gajah-gajah itu) tidak dapat dikesampingkan dan jika terbukti ada potensi untuk masuk ke populasi manusia seperti covid-19, yang diyakini merupakan penyakit zoonosis.

“Ya, bencana ini juga berpotensi menjadi krisis kesehatan masyarakat,” ujarnya. (Ant)

Share