Sebut Saja Aku Kartini

0
16

Lampung Selatan, etalaseinfo.com – Sosok Seorang Kartini, Dalam Peringatan Hari Kartini pada 21 April setiap tahun, identik dengan parade kebaya, lomba masak kaum laki-laki, dan hal-hal yang bersifat tradisional, khususnya budaya Jawa.

Tidak ada yang salah dengan prosesi peringatan tersebut, namun sayangnya hakikat peringatan Hari Kartini mulai terkikis oleh budaya post modern yang glamour dan eksistensialis.

Tampaknya, judul buku Pramodya Ananta Toer, yaitu “Panggil Aku Kartini Saja”, sarat akan pesan sosial dan kontekstual yang begitu dalam dan tajam, Pram mengulas dan memblejeti kehidupan Kartini.

Tak banyak yang berkeinginan untuk menganalisa pesan yang disampaikan Pram dalam buku tersebut, khalayak lebih tertarik dengan keindahan bahasa prosa dan susunan novel yang digunakan dalam buku tersebut.

Intinya, kita semua “sengaja” melupakan kepeloporan Kartini dalam memajukan masa depan dan kehidupan perempuan Indonesia. Kita larut memperdebatkan kata wanita dan perempuan, memperdebatkan kerja serta emansipasi dengan kerja kesetaraan, serta memperdebatkan gerakan afirmatif bagi perempuan.

Jika kita mencermati hakikat kepeloporan Kartini, kita akan mampu menyimak bahwa Kartini tidak pernah “menjual” ke-ningrat-annya dalam memperjuangkan perempuan Indonesia. Kartini terkesan tidak peduli dengan status madu dari seorang priyayi, tidak peduli dengan gelar Raden Ajeng yang disandangnya, tidak peduli dengan kehalusan dan keluhuran budaya Jawa, dan Kartini terkesan tidak peduli dengan kodrat keperempuanannya. Yang dipikirkan dan diperbuatnya adalah memajukan kehidupan dan masa depan perempuan Indonesia.

Bahkan kita seakan melihat bahwa Kartini lebih menginginkan perempuan untuk mengenyam pendidikan, diberikan tempat yang layak oleh kaum laki-laki, dan mampu menyusun masa depannya sendiri ketimbang perempuan harus “wani di toto”.  Untuk itu, Kartini lebih memilih mencurahkan alam pikiran dan gagasannya kepada beberapa laki-laki progresif yang bersedia bersama-sama dan berjuang untuk kemajuan kehidupan masyarakat Indonesia.

Hari ini, jika Kartini “melihat” kehidupan perempuan Indonesia, mungkin ia akan menulis sebuah tulisan dengan judul “Kapan Habis Gelap Terbitlah Terang akan Terwujud”. Hari ini, perempuan Indonesia masih ter-marjinal-kan dalam berbagai bidang kehidupan, hidup dalam ruang domestik keluarga dan cenderung terlecehkan dalam proses indutrialisasi yang masif. Bahkan kaum perempuan sendiri sibuk mengurusi implementasi Kartini modern dan Kartini tradisional yang malah memposisikan perempuan sebagai “tontonan” sejarah.

Kepeloporan Kartini mesti dilanjutkan.

Perempuan Indonesia mesti hidup layak dan bermartabat, tidak penting apakah itu disebut kesetaraan gender atau disebut emansipasi wanita.

Yang penting perempuan Indonesia harus dapat menikmati cita-cita kemerdekaan Republik ini.

Kaum perempuan mesti lebur dalam perjuangan memperoleh kehidupan yang layak dan bermartabat bersama-sama kaum laki-laki. Apakah itu namanya pemberdayaan, pengorganisasian, atau perubahan sosial, yang terpenting adalah perempuan dapat menentukan masa depan kehidupannya berdasarkan hak dan kewajibanya sebagai anggota masyarakat sosial. Perlu kita pikirkan kembali makna perlakuan khusus bagi perempuan yang nyata-nyata malah memposisikan perempuan sebagai makhluk lemah yang selalu butuh pertolongan dan “bimbingan” kaum laki-laki.

Perempuan harus berani berkata “Masalah kami bukan masalah Keyakinan, bukan masalah Politik, masalah perempuan adalah kehidupan yang layak dan bermartabat”. Selamat hari Kartini, semoga kepeloporan Kartini tidak luntur karena distorsi hedonisme industrialisasi.(Penulis Alfianto-sebagai pemerhati dan kepedulian pada perempuan)