Stok Udang Terbatas, Perajin Terasi Berhenti Produksi Sementara

0
3
Stok terasi milik pedagang di desa Lempasing, Pesawaran, Lampung, Rabu (11/9/2019).

Bandarlampung – Perajin terasi di desa Lempasing berhenti produksi sementara waktu karena stok udang rebon yang terbatas.

“Bila udang melimpah biasanya perajin memproduksi terasi dalam jumlah yang banyak, tetapi karena saat ini stok terbatas akibat sedang tidak musim mereka biasanya menjual terasi produksi sebelumnya,” kata Joni, salah seorang pedagang terasi, Pesawaran, Rabu.

Menurut dia, perajin akan serempak memproduksi terasi bila udang sedang musim lalu terasi siap jadi akan dijual ke pasar dan sebagian di simpan untuk mengantisipasi berhentinya produksi akibat musim udang rebon usai.

“Proses produksi terasi membutuhkan rangkaian yang panjang dari menangkap udang rebon, lalu di keringkan selama beberapa hari baru ditumbuk dan diberi garam, serta proses fermentasi selama satu bulan dan yang terakhir dicetak sehingga ketika udang sedang tidak musim secara otomatis produksi akan berhenti karena tidak ada bahan baku,” katanya

Menurut dia, harga terasi satu paket isi 12 potong di bandrol dengan harga Rp120.000. Harga tersebut telah sesuai dengan beban produksi dan upah buruh yang harus dibayarkan.

“Perajin terkadang menggunakan jasa buruh untuk membantu produksi terasi karena mereka dapat memproduksi dalam jumlah yang banyak jadi harga terasi di jual Rp120.000 itu sudah termasuk untuk biaya upah buruh,” katanya.

Menurut Katijo salah seorang warga, desa Lempasing sebagai salah satu sentra produksi terasi udang asli, mengandalkan tangkapan udang segar dari warga sekitar sehingga bila musim udang usai warga memilih untuk menjual stok lama yang telah di simpan sambil menunggu musim udang rebon datang agar stok terasi di pasaran tetap terjaga. (Ant)