Tahun Baru Islam Dirayakan dengan Tradisi Berebut Bolu Ledug Suro di Magetan

Fcc5bf76 4955 42ed Ad01 E3eae1e15639

Jakarta – Menyambut tahun baru Islam, masyarakat Magetan memiliki tradisi menarik. Tradisinya dikenal dengan sebutan ledug suro yang diakhiri dengan berebut kue bolu rahayu.

Tahun baru Islam turut dirayakan meriah oleh masyarakat di Indonesia. Bahkan setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi untuk merayakan tahun baru Islam. Seperti di Magetan, Jawa Timur misalnya yang rutin menggelar tradisi ledug suro setiap tahun.

Ledug suro merupakan perayaan tahun baru Islam yang dilakukan dengan mengarak kue bolu rahayu. Kue bolu rahayu itu disusun menjadi empat rangkaian berbentuk, ledug, bedug, gong dan gunungan.

Setelah diarak kue bolu itu diperebutkan oleh masyarakat sekitar. Nah, dalam tradisi tersebut ternyata mengandung makna dan tujuan yang mendalam bagi masyarakat Magetan.

Berikut 5 fakta tentang tradisi ledug suro di Magetan.

1. Apa Itu Ledug Suro ?

Ledug suro atau lesung seru merupakan tradisi perayaan untuk menyambut tahun baru Islam di Magetan, Jawa Timur. Tradisi ledug suro ini dilakukan selama satu minggu penuh hingga puncaknya pada tahun baru Islam.

Ada banyak serangkaian kegiatan dalam tradisi ledug suro ini. Mulai dari perlombaan membuat lesung bedug yang diikuti oleh masyarakat sekitar, hiburan kesenian tradisional seperti wayang kulit, reog, drumband hingga tari-tarian tradisional.

Rangkaian selanjutnya ada kirab yang menjadi puncak acara dan banyak ditunggu masyarakat. Saat kirab, masyarakat membawa ribuan kue bolu rahayu yang disusun menggunung atau ada juga yang disusun menyerupai bedug.

2. Mengenal Kue Bolu Rahayu

Ledug suro ini merupakan tradisi dan agenda wisata budaya Magetan. Tradisi ledug suro mewakili semua ciri khas daerah Magetan, seperti kirab kue bolu rahayu misalnya. Kue bolu rahayu merupakan jajanan tradisional khas Magetan.

Rotinya berbentuk oval seperti telur, dengan warna coklat keemasan. Karenanya masyarakat Magetan sering juga menyebutnya dengan sebutan roti ndog atau roti telur. Di Magetan, kue bolu rahayu biasanya banyak diproduksi oleh usaha rumahan.

Kue bolu rahayu memiliki rasa manis dengan aroma jeruk purut yang khas. Konon, kue bolu ini sudah ada sejak zaman Belanda. Selain disajikan dalam acara-acara adat, kue bolu rahayu juga populer sebagai oleh-oleh khas Magetan yang jadi buruan para pemudik.

3. Tradisi Berebut Kue Bolu Rahayu

Saat kirab dalam tradisi ledug suro, gunungan kue bolu rahayu diarak terlebih dahulu oleh masyarakat. Untuk membentuk gunungan ini bisa memerlukan ribuan kue bolu rahayu. Itu karena kue bolu akan dirangkai menjadi empat rangkaian, mulai dari lesung, bedug, gong hingga gunungan.

Pernah dalam perayaan ledug suro tahun 2019 lalu, masyarakat Magetan sampai menghabiskan 20 ribu kue bolu untuk dibuat jadi empat rangkaian. Setelah diarak, gunungan kue bolu rahayu itu kemudian diperebutkan oleh masyarakat sekitar yang menonton.

Nah, tradisi ini adalah yang paling ditunggu-tunggu. Kue boku rahayu diperebutkan untuk dimakan bersama keluarga di rumah. Bukan tanpa alasan, tradisi perebutan kue bolu rahayu itu memiliki tujuan dan makna yang mendalam.

4. Tujuan dan Makna Perebutan Kue Bolu Rahayu

Berebuta kue bolu rahayu ini menjadi hal yang penting dalam rangkaian ledug suro. Semua masyarakat selalu antusias saat berebut kue bolu rahayu. Mereka berusaha untuk mendapatkan meski hanya berupa remahan-remahannya saja.

Dalam tradisi perebutan kue bolu ini tentu memiliki tujuan dan makna tersendiri bagi masyarakat Magetan. Tujuannya adalah untuk bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmat pada satu tahun terakhir.

Selain itu juga bermakna untuk mendatangkan rezeki dan kehidupan yang lebih baik. Selain kirab kue boku rahayu, tradisi ladug suro ini juga melibatkan hasil bumi lainnya sebagai tanda syukur kepada Tuhan.

5. Menjadi Tradisi yang Masih Dilestarikan

Selain untuk mendatangkan rezeki dan berkah, tradisi ini juga bertujuan untuk menumbuhkan jiwa seni untuk masyarakat Magetan, khususnya pada kaum millennial. Karenanya, tradisi ledug suro masih dilestarikan hingga saat ini.

Dilansir dari Kominfo.magetan.go.id, ledug sendiri merupakan perpaduan budaya antara tradisi jawa dan budaya Islami. Biasanya setiap tahun, tradisi ledug suro selalu mengangkat tema tertentu. Dalam tradisi ini juga melibatkan kesenian tradisional lainnya sebagai hiburan.

(Dtk)

Share